Sensor Dan Parameter Pemboran (Drilling)

Dalam suatu operasi pemboran, terdapat berbagai jenis sensor yang berfungsi untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pemboran, seperti kedalaman, volume mud dan lain-lain.

Sensor dan parameter pemboran tentu saja akan sangat membantu proses pemboran, bayangkan saja jika mengebor tanpa ada sensor? Mungkin saja pemboran akan membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan bisa saja tidak akan berhasil.

Sensor Dan Parameter Pemboran

Sensor PIT

Sensor pit ada 2 macam yaitu delaval dan potensio meter.  Pit sensor delaval bekerja dengan rangkaian IC yang dipengaruhi oleh naik turunnya pelampung sensor.

Pit sensor potensio bekerja dengan berdasarkan perubahan resistivity pada potensio meter yang digerakkan ( diputar ) oleh naik-turunnya pelampung  sensor. Pergerakan bola sensor terjadi oleh naik turunnya permukaan Lumpur di pit dimana sensor tersebut di pasang.

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi oleh sensor Pit adalah:

  1. Pit Volume(Pit 1,Pit 2,Pit 3 …dst )
  2. Pit G/L
  3. Total Pit  Volume
  4. Trip Tank Volume
  5. Trip Tank G/L

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sensor Pit / Pit Volume:

  1. Pasang sensor agak jauh/aman dari putaran agitator Lumpur. Sensor terpasang dengan kuat menggunakan “C” claim
  2. Sensor dikalibrasi ulang tiap 7 hari sekali ( atau cek nilai volume/signal max dan min pada saat TSK/WOC )
  3. Catat nilai signal/volume min dan max tiap-tiap sensor pada kalibrasi pertama kali
  4. Cek setiap saat kondisi sensor pastikan dalam keadaan baik. Bola sensor dapat bergerak bebas/tanpa hambatan, posisi sensor lurus vertical ( tidak miring ), J-box sensor tertutup rapat, rangkaian kabel terpasang aman (di bawah lantai ) sampai J-box utama (main J-box)
  5. Bersihkan sensor saat tank  Lumpur di kuras dan saat rig down.
  6. Bila terjadi penurunan volume pit active, kemungkinan ada transfer kebocoran tangki Lumpur, atau Pit drill. Bila terjadi loss akan  disertai penurunan  SPP
  7. Bila terjadi penaikan volume pit active, kemungkinan ada transfer atau kick ( gain ) perhatikan gas dan cek degasser pastikan dalam kondisi bagus.

Sensor Density Lumpur


Sensor ini ada dua buah terpasang di possum belly untuk MW out dan di pit aktiv untuk MW in. Cara kerja sensor ini berdasarkan pengaruh Lumpur terhadap membrane yang terpasang di sensor dan di record dalam bentuk satuan arus listrik (mA).

Parapeter yang dihasilkan adalah:

  1. MW in /out. Hydrolika ( Hyd press, Dc-exp, Press loss, ECD, Surge press, Swab pres)

Hal-hal yang perlu diperhatikan

  1. Sensor terpasang dengan kuat menggunakan “C” claim
  2. Bersihkan sensor saat possum belly atau pit active kosong.

Sensor Temperatur


Sensor ini ada dua buah terpasang di possum belly untuk Temp out dan pit aktiv untuk Temp in. Cara kerja sensor ini berdasarkan pengaruh temp lumpur  terhadap sensor yang terpasang  dan di record dalam bentuk satuan arus listrik (mA).

Parameter yang dihasilkan adalah:

  1. Temp in /out

Hal-hal yang perlu diperhatikan

  1. Sensor terpasang dengan kuat menggunakan “C” claim
  2. Bersihkan sensor saat possum belly atau pit active kosong.
  3. Posisi sensor diusahakan tidak terbenam oleh tumpukan cutting di possum belly

Sensor Torque


Sensor berupa press tranducer 5000 psi dipasang di Drilling console atau di “T” connector torque Top drive, prinsip kerja sensor dengan pressure tranducer yang mendapat tekanan saat pipa diputar.

tekanan tersebut akan ditransfer ke DAU sebagai arus listrik ( 0 – 24 mA).

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah:
  1. Torque / Relatif Torque (bila di drilling console tidak ada satuan)

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada Sensor dan Torque:

  1. Pastikan sensor terpasang dengan kuat,  quick coupling sesuai ukuran dengan rig biasanya ¼ “.
  2. Bila pressure tranducer baru, isi dengan martin decker fluid setelah dipasang male /female quick coupling
  3. Pastikan kabel tersambung dengan baik ( + dan – jangan terbalik ) dan tidak basah.
  4. Bila torque bartambah significant pada RPM tetap , kemungkinan ada perubahan formasi misal dari shale ke Limestone (F.Baturaja atau F.Kujung)
  5. Bila torque/relative torque berubah ubah (eratic) dengen RPM tetap, dan bit hours sudah tinggi, kemungkinan factor bit yang sudah aus/dull, biasanya disertai munculnya gram-gram (metal) pada cutting.
  6. Bila torque tiba-tiba tinggi kemungkinan pack off (SPP juga membesar),  pipa terjepit (stuck pipe), ada benda logam jatuh ke lobang (ada gram/metal pada cutting) atau pengaruh geometri lobang (directional well ).

Sensor Casing Pressure


Sensor dipasang di BPM ( Back Pressure Manifold), prinsip kerja sensor dengan pressure tranducer yang mendapat tekanan saat Pipe ram ditutup dan ada pressure melewati BPM.

tekanan tersebut akan ditransfer ke DAU sebagai arus listrik ( 0 – 24 mA).

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah:

  1. Casing pressure ( CSP )

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pastikan sensor terpasang dengan kuat,  quick coupling sesuai ukuran dengan rig biasanya ¼ “. Pasang sensor pada saat hook tidak ada beban.
  2. Kalibrasi setelah dipasang, dengan signal min nilai 0 psi dan signal max: 4020 dengan nilai 10000/5000 psi (sesuai ukuran tranducer, biasanya 10000 psi )
  3. Bila pressure tranducer baru, isi dengan martin decker fluid setelah dipasang male /male quick coupling
  4. Pastikan kabel tersambung dengan baik ( + dan – jangan terbalik ) dan tidak basah
  5. Casing pressure diamati pada saat shut in well atau saat Leak off test / integrity test.

Sensor Stand Pipe Pressure


Sensor dipasang di stand pipe pressure, prinsip kerja sensor dengan pressure tranducer yang mendapat tekanan saat pemompaan melewati stand pipe.

tekanan tersebut akan ditransfer ke DAU sebagai arus listrik ( 0 – 24 mA).

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah:

  1. Stand pipe pressure ( SPP )

Hal-hal yang perlu diperhatikan dengan sensor SPP/SPP:

  1. Pastikan sensor terpasang dengan kuat,  quick coupling sesuai ukuran dengan rig biasanya ¼ “. Pasang sensor pada saat hook tidak ada beban.
  2. Bila pressure tranducer baru, isi dengan martin decker fluid setelah dipasang male/male quick coupling
  3. Pastikan kabel tersambung dengan baik ( + dan – jangan terbalik ) dan tidak basah.
  4. Bila SPP berkurang sampai lebih 100 psi dengan rate pompa SPM tetap,  kemungkinan wash pipe, problem pompa, atau loss (flow out & vol pit berkurang ).
  5. Bila SPP bertambah lebih 100 psi  dengan SPM tetap, kemungkinan ada line buntu,nozzle plug atau pack off ( annulus penuh cutting ) perhatikan torsi biasanya besar.

Sensor Hook Load


Sensor hook load di pasang di pancake. Prinsip kerja sensor dengan pressure tranducer, yang mendapat tekanan saat drilling line mendapat beban dan tekanan tersebut akan ditransfer ke DAU sebagai arus listrik ( 0 – 24 mA).

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah:

  1. Hook Load
  2. Slip status : in/out  ( out:bila hook load melebihi jumlah beban Kelly dan hook. In: bila hook load lebih kecil dari jumlah beban Kelly dan hook ) lihat Slip Threshold
  3. WOB ( Weigh On Bit )
  4. Bit depth dan depth

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pastikan sensor terpasang dengan kuat,  quick coupling sesuai ukuran dengan rig biasanya ¼ “. Pasang sensor pada saat hook tidak ada beban.
  2. Bila pressure tranducer baru, isi dengan martin decker fluid setelah dipasang male /male quick coupling
  3. Pastikan kabel tersambung dengan baik ( + dan – jangan terbalik ) dan tidak basah.
  4. Perhatikan hook load saat cabut/angkat pipa bila melebihi 5-10 klbs dari berat string “terbouyancy” itu normal karena pengaruh drag dan gravity ( apalagi pada sumur berarah /directional ) jika sampai melebihi 30 – 40 Klbs berarti ada over pull. ( catat berapa over pull /selisih dari berat normal string)
  5. Bila Hook load berkurang pada saat masuk pipa dari berat string normal (saat bergerak turun / sluck off ) berarti tight hole/ fill (duduk).

Sensor Pompa SPM


Sensor hook load di pasang di pancake. Prinsip kerja sensor dengan pressure tranducer, yang mendapat tekanan saat drilling line mendapat beban dan tekanan tersebut akan ditransfer ke DAU sebagai arus listrik ( 0 – 24 mA).

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah:

  1. Hook Load
  2. Slip status : in/out  ( out:bila hook load melebihi jumlah beban Kelly dan hook. In: bila hook load lebih kecil dari jumlah beban Kelly dan hook ) lihat Slip Threshold
  3. WOB ( Weigh On Bit )
  4. Bit depth dan depth

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pastikan sensor terpasang dengan kuat,  quick coupling sesuai ukuran dengan rig biasanya ¼ “. Pasang sensor pada saat hook tidak ada beban.
  2. Bila pressure tranducer baru, isi dengan martin decker fluid setelah dipasang male /male quick coupling
  3. Pastikan kabel tersambung dengan baik ( + dan – jangan terbalik ) dan tidak basah.
  4. Perhatikan hook load saat cabut/angkat pipa bila melebihi 5-10 klbs dari berat string “terbouyancy” itu normal karena pengaruh drag dan gravity ( apalagi pada sumur berarah /directional ) jika sampai melebihi 30 – 40 Klbs berarti ada over pull. ( catat berapa over pull /selisih dari berat normal string)
  5. Bila Hook load berkurang pada saat masuk pipa dari berat string normal (saat bergerak turun / sluck off ) berarti tight hole/ fill (duduk).

Gas Trap Degasser


Degasser  dipasang di possum belly. Prinsip kerja degasser ini pada dasarnya mengaduk Lumpur dengan agitator agar gas dalam Lumpur keluar dan diisap oleh vacuum pump untuk dianalisa oleh Chromatograph.

Ada dua macam degasser berdasarkan tenaga penggerak/pemutar agitator yaitu degasser dengan tenaga listrik ( electric ) dan gegasser dengan tenaga angin (air degasser ). Untuk degasser electric jarang hamper tidak pernah digunakan. Kecuali untuk rig yang tidak menyediakan angin compressor.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Sensor terpasang dengan kuat menggunakan “C” claim dan posisi tegak
  2. Bersihkan degasser saat possum belly kosong, atau setelah penyemenan.
  3. Posisi degasser dan putaran agitator bagus dalam keadaan drilling/sirkulasi.

Lumpur keluar dari corong degasser setengah penuh.

  1. Cek selalu oli pelumas pada regulator atau suntikkan oli pelumas ke slang angin  tiap 1 jam sekali.
  2. Cek sekali-sekali kondisi agitator saat stop sirkulasi. Jika sudah goyah, segera dikencangkan/perbaiki atau ganti   dengan degasser spare.
  3. Pelankan putaran agitator bila   degasser tidak digunakan.
  4. Tekanan angin 20-30 psi (kondisi degasser bagus) untuk memutar agitator guna memecah Lumpur.
  5. Cek posisi degasser bila terjadi perubahan Flow Rate (gpm)

Sensor Depth dan ROP


Sensor depth dipasang di crown block. Terdiri dari dua proximity yang dipasang sejajar miring +/- 45 derajat. Dua sensor proximity ini akan dilewati  4-6 target ( sesuai diameter crown block ) dalam satu putaran crown block.

Depth akan bertambah atau berkurang sesuai dengan arah putaran target yang mengenai proximity. Target berupa stereofoam dengan ukuran  25 x 25 cm tebal +/- 3 cm yang permukaannya dilapisi alluminium tape. jarak antar target usahakan sama. Posisi target terhadap proximity adalah sebagai berikut : crown berputar dan target bergerak mengenai proximity no1 tapi belum mengenai proximity no2 ( no1 nyala dan no2  padam), target terus bergerak dan mengenai kedua proximity ( 1 dan 2 nyala semua ), terus bergerak dan melewati proximity no1 tapi masih mengenai proximity no2 ( no1 padam dan no2 nyala ), target terus bergerak melewati proximity no2 ( no1 padam no2 juga padam ). Jika dinyatakan :  + nyala   - padam     maka :    + -    + +   - +   - -

Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah:

  1. Depth
  2. Bit Depth
  3. ROP ( tiap perubahan depth 1 m )
  4. ROP instant ( ROP tiap perubahan depth 10 cm )
  5. Hook position

Hal yang perlu diperhatikan Depth dan ROP:

  1. Sebelum di pasang di crown block,  Cek sensor di bawah pastikan sensor bekerja dengan baik . Pasang kabel sensor ke J-box  dimana kabel multi core sudah  terpasang dan ada power. Coba dengan target secara manual
  2. Sensor terpasang dengan kuat menggunakan “C” claim
  3. Jarak ujung proximity dengan permukaan target max -/+ 0.5 cm
  4. Permukaan target rata dan tebal target satu dengan lainnya harus sama -/+ 3 cm
  5. Pastikan kondisi sambungan kabel bagus dan posisi kabel dalam keadaan aman.
  6. Amati dalam keadaan  block bergerak naik turun,
  7. ROP mengecil/cepat ( 0.1-0.3 dari ROP sebelumnya ) terjadi drilling break, kemungkinan ada perubahan formasi. Dianjurkan untuk spot sample dan perhatikan ada loss atau kick, tunggu bottom up perhatikan gas.
  8. ROP membesar/lambat-sangat lambat, kemungkinan perubahan formasi atau kondisi bit (cek bit hours ) atau bit tidak cocok

Sensor Flow Out


Sensor flow out dipasang di flow line. Prinsip kerja dengan menggunakan potensio meter.

Potensio meter tersambung dengan pedal. Pedal akan bergerak naik/turun  memutar potensio meter bila ada aliran Lumpur melewati flow line. Pemutaran potensio meter akan menghasilkan perubahan resistivity dan arus listrik ( 0 – 24 mA).
Parameter yang dihasilkan/dipengaruhi adalah: Flow out dan Flow G/L

Hal yang perlu diperhatikan dari Flow Out:

  1. Sensor terpasang kuat dan tidak ada kebocoran Lumpur pada dudukan sensor
  2. Pemasangan kabel potensio meter ke card sensor harus benar (tidak terbalik)
  3. Pastikan pemasangan pedal ke potensio terpasang dengan bagus.

Bila pedal digerakkan, potensio ikut berputar.

  1. Bila flow out tiba-tiba membesar sedangkan SPM tetap, kemungkinan ada kick/gain perhatikan gas dan cek degasser.
  2. Demikian pula sebaliknya bila flow out mengecil disertai SPP mengecil, dan SPM tetap, kemungkinan terjadi loss.
Tulis Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel